Groundcrew
Embak -baca: pembantu- jaman sekarang emang beda ama jaman dulu ya?
Kalau
punya ortuku dari aku kecil thu aweeett banget, baik embak maupun
supir. Sampai Chacha SD kelas 2 pun, kadang supir nyokap -yang dulu anter jemput gue dari playgroup- juga suka jemput Cha.
4
tahun terakhir ini supir tua ibuku menjadi milik supir adikku yang
laki, khusus buat anter jemput anak-2nya disebabkan pak supir itu sudah
tidak memungkinkan lagi mengantar jemput ibuku karena makin pikun
sedangkan rute ibuku kadang masih bersliweran keliling jakarta. Jadi
dipensiunkan dengan hormat dan tetap menjadi supir buat anak-2nya
adikku.
Begitu juga dengan embak-nya ibuku, urus rumah ibuku
dari aku bayi, dan baru pensiun dengan rencana buka warung di
kampungnya sekitar 4 tahun yang lalu.
Jadi baru 4 tahun terakhir
ini dirumah ibu bapakku terjadi pergantian supir dan embak, padahal
mereka sudah ikut ortuku sejak ortuku baru nikah. Kalau supir bapakku,
masih awet karena jauh lebih muda dibanding supir ibuku dan embakku.
Dia itu 'baru' ikut bapakku
saat aku duduk dibangku SMP, jadi umur masih sekitar 50an laah, stamina
masih kuat buat 'dihajar' bapakku kemana mana, dari pagi sampai malam,
hahaha.
Itu tadi cuma sekedar contoh nyata yang aku liat
sendiri, gimana orang jaman dulu jauh lebih mengabdi dibanding embak-2
jaman sekarang yang adaaaaaa aja manner dan masalahnya.
Kembali ke topik.
Aku
cuma pengen nulis beberapa contoh pengalaman punya embak dan suster
yang 'ajaib' buatku karena bener-2 deh kelakuannya bikin aku gak tahan,
jadi harus milih either dia atau aku yang keluar rumah, looohh..???
Enggg.. sementara dua cerita aja ya, kalau ada waktu senggang lagi, aku tulis yang lain.
Saat Chacha berumur 10 bulan, aku mulai memakai jasa seorang suster.
Kerjanya
lumayan, mau nyanyi dan main sama Chacha, nyuapin pun telaten. Baru
beberapa hari dia dirumah, suatu pagi subuh-2 suamiku membangunkan aku
sambil rada ngomel..
' Kalau pakai kamar mandi, dibersihkan lagi'
'Sapa yang pake kamar mandi?' *bales rada jutek karena namanya juga dibangunkan dengan nada yang gak enak*
'Ituuu, kamu pup gak di flush'
'Enak ajaaa, awas ya nuduh sembarangan, gak bisa kentut ntar'
-------------
Beberapa pagi lagi...
'Kamu ngelindur yaaaa, kamar mandi kok jorok kayak gitu!'
'Apaan sih, dari kemaren-2 kok mbangunin cuma buat bahas kamar mandi...'
'Liat ndiri deh...'
Udah
kayak pocong deh jalan ke kamar mandi yang letaknya persis di depan
kamar dengan terkantuk-2 dan begitu buka pintu kamar mandi....
'Alamaaakkjaaaannn' *Gaya Emon di Catatan si Boy*
Tau gaaak, ada pup berserakan di ubin kamar mandi -hhuueeekkssss- dan yang didalem jambannya juga belum disiram !! 
'Bukan
akuuu, sungguuh! Jangan mentang-2 kamu baru menikahi aku -halaaaahh- 2
tahun lalu kamu baru tahu bahwa aku sleepwalker dan pupwalker...'
'Lalu siapaaaa?? Chacha kan belum bisa jalan dan pupnya gak mungkin lah kayak begini.'
Selidik punya selidik (gak mau memperpanjang cerita ini dengan cara detektifnya aku menyelidiki karena mual lagi mbayanginnya), ketahuanlah si suster itu yang melakukannya. Langsuungggg talak 3 !
![]()
Cerita kedua.
Pembantu baru aku yang cukup berumur -sekitar 40 tahunan tapi mukanya udah 50an- ternyata PLAYGIRL 
!! Aduh maaaakk, untung dia janda (kok masih untung juga?)
jadi gak merugikan pasangannya. Tapi ini keterlaluan banget. Semua
orang yang lewat juga digenitin ama dia, bahkan cuma sekedar supir taxi
yang kebetulan lewat di depan rumah. Apalagi satpam keliling,
pembantu-2 laki yang kerja di 1 sepanjang 1 gang rumahku, mungkin udah
abis bibirnya disosor dia.
Sampai akhirnya dia kena batunya...
Suatu sore, ada cewek pengen ketemu dia.
Dia
gakmau nemuin, thu cewek berubah haluan minta ketemu aku. Lha, dia yang
berbuat kok aku yang merasakan akibatnya? Katanya cewek itu adalah
istri dari seorang laki yang merupakan salah satu pacarnya dia.
Jelas kutolak mentah-2 mau ketemu aku.
Tapi
thu cewek pantang menyerah, duduk manis depan pager dan menunggu...
menunggu... menunggu.... sampai pembantu PlayGirl gerah di dalam rumah.
Jam
20 malem (udah 4 jam nunggu) cewek itu bilang ke pembantu yang
satunya, kalau dia mau liat kamar si PlayGirl karena yakin si PG
ngumpet ketakutan.
Pembantu yang alim lapor ke aku kalau si cewek
mau liat kamarnya, akhirnya kuijinkan dengan syarat cuma liat kamarnya
aja lalau kalau gak ada, suruh keluar lagi.
Masuklah itu
cewek ke kamar PG, dan emang gak ada si PG karena keburu ngibrit
ngumpet di halaman belakang rumah, dibawah pohon palem.
Cewek itu
bilang makasih, lalu keluar lagi, nunggu di depan pager.... sampai
tengah malem... dan si PG juga ketakutan nungging di bawah pohon palem
belakang ... sampai malem.. subuh.. pagi....
Jam 7 pagi si
PG keluar dari sarangnya, masuk kerumah dan minta resign. Yeeee, emang
mau aku keluarin, gak bisalah rumahku jadi tempat kayak gitu.
Dia berkemas, aku kasih gaji terakhir
.... dia keluar pagerrrr....
.......dan tadaaaaaaaaa..... thu cewek masih tetep nunggu di pengkolan deket rumahku. 
Entah apa yang terjadi lagi, aku gakmau tau.
Tapi
kata pembantuku yang laki, si PG compang camping bajunya dan lengannya
berdarah- darah serta rambut berurai berantakan sambil nangis-2 lari ke
terminal. 

Cukup mereka berdua 1 minggu bekerja dirumahku dalam waktu yang berbeda.. *menghela nafas, mengenang kejadian yang memilukan* 



























Recent Comments